Chapter 3
: Pengelolaan limbah padat
TINJAUAN MATA KULIAH
1. Bab ini berisi tentang definisi limbah padat, dampak
pencemaran limbah padat dan proses-proses pengolahan limbah padat.
2. Manfaat dan tujuan pembelajaran bab ini adalah
mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang pengelolaan limbah padat serta
proses-prosesnya.
3.1 DEFINISI
LIMBAH PADAT
Limbah padat adalah hasil buangan industri
yang berupa padatan, lumpur atau bubur yang berasal dari suatu proses
pengolahan. Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat
rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan,
pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu,
kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit
telur, dll
Sumber-sumber
dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik gula, pulp, kertas, rayon,
plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau daging. Secara garis besar limbah
padat terdiri dari :
·
Limbah padat yang
mudah terbakar.
·
Limbah padat yang
sukar terbakar.
·
Limbah padat yang
mudah membusuk.
·
Limbah yang dapat di
daur ulang.
·
Limbah radioaktif.
·
Bongkaran bangunan.
·
Lumpur.
3.2 DAMPAK
PENCEMARAN LIMBAH PADAT
Limbah
pasti akan berdampak negatif pada lingkungan hidup jika tidak ada pengolahan yang baik
dan benar, dengan adanya limbah padat didalam linkungan hidup maka dapat
menimbulkan pencemaran seperti :
1. Timbulnya
gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3),
methan (CH4),
C02 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun dan membusuk dikarena
adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan kemarau, terjadi
proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur dalam suasana
aerob/anaerob.
2. Dapat
menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk, akan terjadi reaksi
kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika melebihi NAB (Nilai
Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50 ppm dapat
mengakibatkan mabuk dan pusing.
3. Penurunan
kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang dalam perairan atau
bersama-sama air limbah. Maka akan dapat menyebabkan air menjadi keruh dan rasa
dari air pun berubah.
4. Kerusakan
permukaan tanah.
Dari
sebagian dampak-dampak limbah padat diatas, ada beberapa dampak limbah yang lainnya
yang ditinjau dari aspek yang berbeda secara umum. Dampak limbah secara umum di
tinjau dari dampak terhadap kesehatan dan terhadap lingkungan adalah
sebgai berikut :
1.
Dampak Terhadap Kesehatan
Dampaknya
yaitu dapat menyebabkan atau menimbulkan panyakit. Potensi
bahaya
kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
a.
Penyakit diare dan
tikus, penyakit ini terjadi karena virus yang berasal dari sampah dengan
pengelolaan yang tidak tepat.
b. Penyakit
kulit misalnya kudis dan kurap.
2.
Dampak Terhadap Lingkungan
Cairan
dari limbah – limbah yang masuk ke sungai akan mencemarkan airnya sehingga mengandung
virus-virus penyakit. Berbagai ikan dapat mati sehingga mungkin lama
kelamaan akan punah. Tidak jarang manusia juga mengkonsumsi atau
menggunakan air untuk kegiatan sehari-hari, sehingga menusia akan terkena
dampak limbah baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain
mencemari, air lingkungan juga menimbulkan banjir karena banyak orang-orang
yang membuang limbah rumah tanggake sungai, sehingga pintu air
mampet dan pada waktu musim hujan air tidak dapat mengalir dan air naik
menggenangi rumah-rumah penduduk, sehingga dapat meresahkan para
penduduk.
3.3 PENGELOLAAN LIMBAH PADAT
Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan
berbagai cara yang tentunya dapat menjadikan limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi
lingkungan ataupun
kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa
pengolahan dan pengolahan limbah padat dengan pengolahan.
Limbah padat tanpa pengolahan : Limbah padat yang
tidak mengandung unsur kimia
yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Limbah
padat dengan pengolahan : Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun dan berbahaya harus
diolah
terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat-tempat
tertentu.
Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan
cara-cara yang sedehana lainnya misalnya, dengan cara mendaur ulang, Dijual kepasar loakatau
tukang
rongsokan yang biasa lewat di depan rumah – rumah.
Cara ini bisa menjadikan limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang
yang
ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga
dijual kepada tetangga kita yang menjadi tukang loak ataupun pemulung. Barang-barang yang dapat dijual
antara lain kertas-kertas
bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio tua, TV tua dan sepeda yang usang.
Dapat juga dengan cara pembakaran. Cara ini adalah
cara yang paling mudah untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha keras. Cara ini bisa
dilakukan dengan cara
membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas dengan menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya.
Kelebihan cara membakar ini adalah mudah dan tidak membutuhkan usaha keras, membutuhkan tempat atau
lokasi
yang cukup kecil dan dapat digunakan sebagai sumber
energi baik untuk pembangkit uap air panas, listrik dan pencairan logam.
Faktor
– faktor yang perlu kita perhatikan sebelum kita mengolah limbah padat tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jumlah Limbah
Sedikit dapat dengan mudah kita tangani sendiri.
Banyak dapat membutuhkan penanganan khusus tempat dan sarana pembuangan.
2. Sifat fisik dan kimia limbah
Sifat fisik mempengaruhi pilihan tempat pembuangan,
sarana penggankutan dan pilihan pengolahannya. Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari lingkungan dengan cara membentuk
senyawa-senyawa baru.
3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Karena lingkungan ada yang peka atau tidak peka
terhadap pencemaran, maka perlu kita perhatikan tempat pembuangan akhir (TPA), unsur yang akan terkena, dan tingkat pencemaran yang akan timbul.
4. Tujuan akhir dari pengolahan
Terdapat tujuan akhir dari pengolahan yaitu bersifat
ekonomis dan bersifat non-ekonomis. Tujuan pengolahan yang bersifat ekonomis adalah dengan meningkatkan efisiensi pabrik secara menyeluruh dan
mengambil kembali bahan yang
masih berguna untuk di daur ulang atau di manfaat lain. Sedangkan tujuan pengolahan yang bersifat
non-ekonomis adalah untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
3.4 PROSES PENGOLAHAN
LIMBAH PADAT
Ada beberapa proses yang
bias dilakukan untuk mengolah limbah padat, dalam hal ini adalah sampah. Untuk
membandingkan metode pengolahan limbah padat, dapat dilihat pada Tabel 4 yang
menyajikan perbandingan kekurangan dan kelebihan masing-masing metode pengolahan.
Pada umumnya dalam
memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan
pembuangan limbah.
1. Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang
berbedan dan kandungan bahan yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan pengolahan menjadi awet. Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya :
Sistem
Balistik. Adalah
sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman ukuran / berat / volume.
Sistem
Gravitasi. Adalah
sistem pemisahan berdasarkan gaya berat misalnya barang yang ringan / terapung dan barang yang berat
/ tenggelam.
Sistem
Magnetis. Adalah
sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet yang bersifat agnet, akan langsung menempel. Misalnya
untuk memisahkan campuran logam
dan non logam.
2. Penyusunan Ukuran
Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran
yang lebih kecil agar
pengolahannya menjadi mudah.
3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang
mudah membusuk, sampah kota,
buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik. Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus
dipisahkan dan disamakan
ukurannya atau volumenya.
4. Pembuangan Limbah
Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah
pembuangan limbah yang dibagi menjadi dua yaitu :
a) Pembuangan Di Laut
Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh
dilakukan pada sembarang tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke laut. Hal ini disebabkan :
·
Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan.
·
Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal.
·
Laut menjadi dangkal.
·
Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya dapat membunuh biota laut.
b) Pembuangan Di Darat Atau Tanah
Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan
lokasi yang harus dipertimbangkan
sebagai berikut :
·
Pengaruh iklim, temperatur dan angin.
·
Struktur tanah.
·
Jaraknya jauh dengan permukiman.
·
Pengaruh terhadat sumber lain, perkebunan, perikanan, peternakan, flora atau fauna. Pilih lokasi yang
benar-benar tidak ekonomis
lagi untuk kepentingan apapun.
Upaya pengolahan limbah
padat dapat dilakukan dengan cara-cara tersebut di atas, tetapi ada pula
beberapa cara yang dapat dilakukan yang justru lebih memanfaatkan limbah padat
tersebut. Upaya-upaya tersebut antara lain adalah pengomposan, incinerator,
daur ulang, dan menjadikannya sebagai biogas.
Tabel 4. Kelebihan dan kelemahan alternatif sistem pengolahan sampah
1.4.1
Pengomposan
(Composting)
Proses pengomposan (composting) adalah proses dekomposisi yang dilakukan oleh
mikroorganisme terhadap bahan organik yang biodegradable, atau dikenal pula
sebagai biomas. Pengomposan dapat dipercepat dengan mengatur
faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga berada dalam kondisi yang optimum
untuk proses pengomposan. Secara umum, tujuan pengomposan adalah :
a. Mengubah bahan organik
yang biodegradable menjadi bahan yang secara biologi bersifat stabil
b. Bila prosesnya
pembuatannya secara aerob, maka proses ini akan membunuh bakteri patogen, telur
serangga, dan mikroorganisme lain yang tidak tahan pada temperatur di atas
temperatur normal
c. Menghasilkan produk yang
dapat digunakan untuk memperbaiki sifat tanah
Beberapa manfaat kompos
dalam memperbaiki sifat tanah adalah:
− Memperkaya bahan
makanan untuk tanaman
− Memperbesar daya ikat
tanah berpasir
− Memperbaiki struktur
tanah berlempung
− Mempertinggi kemampuan
menyimpan air
− Memperbaiki drainase
dan porositas tanah
− Menjaga suhu tanah agar
stabil
− Mempertinggi daya ikat
tanah terhadap zat hara
− Dapat meningkatkan
pengaruh pupuk buatan
Kompos kurang tepat bila
disebut sebagai pupuk, walaupun dikenal pula sebagai pupuk organik, karena zat
hara yang dikandungnya akan tergantung pada karakteristik bahan baku yang
digunakan. Oleh karena sampah kota karakteristiknya sangat heterogen dan
fluktuatiif maka kualitasnya akan mengikuti karakteristik sampah yang digunakan
sebagai bahan kompos setiap saat.
Klasifikasi pengomposan
antara lain dapat dikelompokkan atas dasar :
a. Ketersediaan oksigen:
− Aerob bila dalam
prosesnya menggunakan oksigen (udara)
− Anaerob bila dalam
prosesnya tidak memerlukan adanya oksigen
b. Kondisi suhu:
− Suhu mesofilik:
berlangsung pada suhu normal, biasanya proses anaerob
− Suhu termofilik:
berlangsung di atas 40oC, terjadi pada kondisi aerob
c. Teknologi yang
digunakan:
− Pengomposan tradisional
(alamiah) misalnya dengan cara windrow
− Pengomposan dipercepat
(high rate) yang bersasaran mengkondisikan dengan rekayasa
lingkungan proses yang
mengoptimalkan kerja mikroorganisme, seperti pengaturan pH, suplai udara,
kelembaban, suhu, pencampuran, dsb.
Pengomposan aerobik lebih banyak dilakukan karena tidak menimbulkan bau,
waktu pengomposan lebih cepat, temperatur proses pembuatannya tinggi sehingga
dapat membunuh bakteri patogen dan telur cacing, sehingga kompos yang
dihasilkan lebih higienis. Adapun perbedaan antara keduanya dapat dilihat pada
Tabel 5 berikut ini. Proses pembuatan kompos adalah dekomposisi material
organik limbah padat (sampah) secara biologis, di bawah kontrol kondisi proses
yang berlangsung. Dalam produk akhir, materi organik belumlah dapat dikatakan
stabil, namun dapat disebut stabil secara biologis.
Tabel 5. Perbandingan pengomposan aerob dan anaerob
Hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan,
antara lain :
a. Bahan yang dikomposkan: apakah mudah terurai atau
sulit terurai, misalnya makin banyak kandungan kayu atau bahan yang mengandung
lignin, maka akan makin sulit terurai
b. Mikroorganisme: mikroorganisme seperti bakteri, ragi,
jamur yang sesuai dengan bahan yang akan diuraikan akan dapat menguraikan bahan
organik
c. Ukuran bahan yang dikomposkan : bila ukuran sampah
makin kecil, akan makin luas permukaan, sehingga makin baik kontak antara
bakteri dan materi organik, akibatnya akan makin cepat proses pembusukan. Namun
bila diameter terlalu kecil, kondisi bisa menjadi anaerob karena ruang untuk
udara mengecil. Diameter yang baik adalah antara (25-75) mm.
d. Kadar air :
-
Timbunan
kompos harus selalu lembab, biasanya sekitar nilai 50-60%. Nilai optimum adalah
= 55%, kurang lebih selembab karet busa yang diperas.
-
Adanya panas
yang terbentuk, menyebabkan air menguap, sehingga tumpukan menjadi kering.
-
Bila terlalu
basah, maka pori-pori timbunan akan terisi air, dan oksdigen berkurang sehingga
proses menjadi anaerob. Biasanya pengadukan atau pembalikan kompos pada proses
konvensional akan mengembalikan kondisi dalam timbunan menjadi normal kembali. Bulking
agent, seperti zeolit, dedak atau kompos matang, banyak digunakan untuk
mempertahankan kadar air agar tidak terlalu lembab.
-
Timbunan akan
berasap bila panas mulai timbul. Pada saat itu bagian tengah tumpukan dapat
menjadi kering, dan proses pembusukan dapat terganggu.
-
Untuk mengukur
suhu secara mudah, tancapkan bambu ke tengah tumpukan. Bila bamboo basah dan
hangat, serta tidak berbau busuk, maka proses pengomposan berjalan dengan baik.
-
Kadang-kadang
diperlukan penambahan air ke dalam timbunan setiap 4 – 5 hari sekali.
Sebaliknya, untuk daerah yang mempunyai curah hujan yang tinggi, maka timbunan
kompos harus dilindungi dari hujan, misalnya diberi tutup plastik atau terpal.
e. Ketersediaan oksigen :
-
Pada proses
aerob selalu dibutuhkan adanya oksigen. Pada proses konvensional, suplai oksigen
dilakukan dengan pembalikan tumpukan sampah. Pembalikan menyebabkan distribusi sampah
dan mikroorganisme akan lebih merata. Secara praktis, pembalikan biasanya
dilakukan setiap 5 hari sekali.
-
Pada
pengomposan tradisional, tersedianya oksigen akan dipengaruhi tinggi tumpukan.
Tinggi tumpukan sebaiknya 1,25 - 2 m.
-
Pada proses
mekanis, suplai oksigen dilakukan secara mekanis, biasanya dengan menarik udara
yang berada dalam kompos, sehingga udara dari luar yang kaya oksigen
menggantikan udara yang ditarik keluar yang kaya CO2. Untuk hasil yang optimum,
diperlukan udara yang mengandung lebih dari 50% oksigen.
f.
Kandungan
karbon dan nitrogen :
-
Karbon (C )
adalah komponen utama penyusun bahan organik sebagai sumber enersi, terdapat dalam
bahan organik yang akan dikomposkan seperti jerami, batang tebu, sampah kota,
daundaunan dsb.
-
Nitrogen (N)
adalah komponen utama yang berasal dari protein, misalnya dalam kotoran hewan,
dan dibutuhkan dalam pembentukan sel bakteri.
-
Dalam proses
pengomposan, 2/3 dari karbon digunakan sebagai sumber energi bagi pertumbuhan
mikroorganisme, dan 1/3 lainnya digunakan untuk pembentukan sel bakteri. Perbandingan
C dan N awal yang baik dalam bahan yang dikomposkan adalah 25-30 (satuan beratnkering),
sedang C/N di akhir proses adalah 12 – 15. Pada rasio yang lebih rendah, ammonia
akan dihasilkan dan aktivitas biologi akan terhambat, sedang pada ratio yang
lebih tinggi, nitrogen akan menjadi variabel pembatas.
-
Harga C/N
tanah adalah 10 – 12, sehingga bahan-bahan yang mempunyai harga C/N mendekati
C/N tanah, dapat langsung digunakan.
-
Waktu
pengomposan dapat direduksi dengan proses pencampuran dengan bagian yang sudah terdekomposisi
sampai (1-2)% menurut berat. Buangan lumpur dapat juga ditambahkan dalam penyiapan
sampah. Jika lumpur ditambahkan, kadar air akhir merupakan variabel pengontrol.
g. Kondisi asam basa (pH):
-
pH memegang
peranan penting dalam pengomposan. Pada awal pengomposan, pH akan turun sampai
5, kemudian pH akan naik dan stabil pada pH 7 - 8 sampai kompos matang.
-
Bila pH
terlalu rendah, perlu penambahan kapur atau abu. Untuk meminimalkan kehilangan nitrogen
dalam bentuk gas ammonia, pH tidak boleh melebihi 8,5.
h. Temperatur:
-
Suhu terbaik
adalah 50º-55ºC, dan akan mencapai (55-60)ºC pada periode aktif. Suhu rendah, menyebabkan
pengomposan akan lama. Suhu tinggi (60-70)ºC menyebabkan pecahnya telur insek,
dan matinya bakteri-bakteri patogen yang biasanya hidup pada temperatur
mesofilik.
-
Pada
pengomposan tradisional, bila tumpukan terlalu tinggi, terjadi pemadatan
bahan-bahan dan akan terjadi efek selimut. Hal ini akan menaikkan temperatur
menjadi sangat tinggi, dan oksigen menjadi berkurang.
i.
Tingkat dekomposisi: dapat diperkirakan melalui pengukuran penurunan suhu
akhir, tingkat kapasitas panas, jumlah materi yang dapat didekomposisi.
Kenaikan potensial redoks, kebutuhan oksigen, pertumbuhan jamur, dsb dapat
digunakan juga sebagai indikator tingkat dekomposisi.
Sistem Windrow merupakan
teknologi yang relatif paling sederhana melalui penumpukan bahan kompos secara
tradisional. Suplai oksigen dari udara bebas dimasukkan dari bawah tumpukan,
dengan melengkapi drainase penyalur udara di bawahnya. Materi kompos dibiarkan
terdekomposisi secara alamiah dan oleh kegiatan bakteri yang menghasilkan panas
pada tumpukan kompos. Panas terbentuk selain membunuh bakteri patogen juga
membantu proses perbaikan dan pengeringan secara perlahan. Proses ini membutuhkan
waktu sekitar 2 - 3 minggu untuk mencapai kompos setengah matang, dan membutuhkan
3 - 4 bulan berikutnya untuk menghasilkan kompos matang.
Disamping itu, pembuatan
kompos dengan menggunakan cacing dapat pula diterapkan, dikenal sebagai Vermikultur.
Cara ini adalah penerapan vermikultur dengan skala yang memadai untuk
memproduksi volume cacing yang diperlukan oleh petani untuk mampu mengkonsumsi
sekitar 3-5% kompos kasar produksi TPA. Kompos adalah makanan yang ideal bagi vermikultur
sehingga tidak ada biaya tambahan produksi yang diperlukan.
Di negara industri,
pengomposan sampah kota sudah biasa dilaksanakan secara mekanis, dikenal sebagai
pengomposan dipercepat (accelerated composting). Percepatan ini
dilaksanakan pada proses pembuatan kompos setengah matang, yang pada
pengomposan tradisional (konvensional) membutuhkan waktu sekitar 3 minggu. Pada
pengomposan ini, waktu yang dibutuhkan dipercepat sampai menjadi 1 minggu.
Prinsip yang digunakan adalah bagaimana agar bahan baku kompos menjadi lebih baik,
dan bagaimana agar mikroorganisme pengurai menjadi lebih aktif dalam
menguraikan kompos. Beberapa catatan dalam pengomosan dipercepat adalah :
-
Bahan yang akan dikomposkan disortir dari logam, kaca, plastik dan bahan
lain yang tidak dapat dikomposkan. Untuk pemisahan bahan tersebut dapat
digunakan alat pemisah mekanis atau manual.
-
Proses pengomposan dilakukan dalam reaktor, dengan pasokan oksigen dan
air untuk menjamin kondisi tetap aerob.
Disamping itu dilakukan
pembalikan/ pengadukan secara mekanikal. Beberapa teknologi menyalurkan uap
panas hasil pengomposan pada bagian sampah yang baru masuk. Pembibitan
mikroorganisme dilakukan dengan resirkulasi air lindi yang terbentuk.
1.4.2
Insinerator
Teknologi insinerasi merupakan teknologi yang mengkonversi materi padat
(dalam hal ini sampah) menjadi materi gas (gas buang), serta materi padatan
yang sulit terbakar, yaitu abu (bottom ash) dan debu (fly ash). Panas yang dihasilkan
dari proses insinerasi juga dapat dimanfaatkan untuk mengkonversi suatu materi
menjadi materi lain dan energi, misalnya untuk pembangkitan listrik dan air panas.
Insinerasi adalah metode pengolahan sampah dengan cara membakar sampah pada
suatu tungku pembakaran. Di beberapa negara maju, teknologi insinerasi sudah
diterapkan dengan kapasitas besar (skala kota). Teknologi insinerator skala
besar terus berkembang, khususnya dengan banyaknya penolakan akan teknologi ini
yang dianggap bermasalah dalam sudut pencemaran udara. Salah satu kelebihan
yang dikembangkan terus dalam teknologi terbaru dari insinerator ini adalah
pemanfaatan enersi, sehingga nama insinerator cenderung berubah seperti waste-to-energi,
thermal converter. Berikut adalah skema
proses incinerator ditunjukkan oleh gambar 11.
Gambar 11. Prinsip proses
Insinerasi
Meskipun teknologi ini mampu melakukan
reduksi volume sampah hingga 70%, namun teknologi insinerasi membutuhkan biaya
investasi, operasi, dan pemeliharaan yang cukup tinggi. Fasilitas pembakaran
sampah dianjurkan hanya digunakan untuk memusnahkan/membakar sampah yang tidak bisa
didaur ulang, ataupun tidak layak untuk diurug. Alat ini harus dilengkapi
dengan sistem pengendalian dan kontrol untuk memenuhi batas-batas emisi
partikel dan gas-buang sehingga dipastikan asap yang keluar dari tempat
pembakaran sampah merupakan asap/gas yang sudah netral. Abu yang dihasilkan
dari proses pembakaran bisa digunakan untuk bahan bangunan, dibuat bahan
campuran kompos, atau dibuang ke landfill. Sedangkan residu dari sampah
yang tidak bisa dibakar seperti sisa logam bisa didaur ulang.
Insinerasi merupakan proses pengolahan
buangan dengan cara pembakaran pada temperatur yang sangat tinggi (>800ºC)
untuk mereduksi sampah yang tergolong mudah terbakar (combustible), yang
sudah tidak dapat didaurulang lagi. Sasaran insinerasi adalah untuk mereduksi
massa dan volume buangan, membunuh bakteri dan virus dan meredukdi materi kimia
toksik, serta memudahkan penanganan limbah selanjutnya. Insinerasi dapat
mengurangi volume buangan padat domestik sampai 85-95 % dan pengurangan berat
sampai 70-80 %.
EVALUASI
1. Masalah apa sajakah yang sering timbul di lingkungan
sekitar TPA akibat tidak tepatnya pengelolaan limbah padat ?
2. Bagaimana cara mengelola limbah padat B3 yang tepat ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar