Selasa, 26 Maret 2013

diktat limbah chapter 1


Chapter 1 : Pendahuluan tentang limbah dan dampaknya terhadap lingkungan

TINJAUAN MATA KULIAH
1.       Bab ini berisi tentang definisi limbah, klasifikasi limbah, proses terbentuknya limbah serta dampak-dampak limbah terhadap lingkungan.
2.       Manfaat pembahasan bab ini pada mata kuliah Pengelolaan Limbah Industri dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap kelestarian lingkungan.
3.       Tujuan pembelajaran bab ini adalah agar mahasiswa mengetahui dan memahami definisi tentang limbah dan dampak-dampaknya terhadap lingkungan.

1.1 DEFINISI LIMBAH
            Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga maupun industri. Limbah juga dapat didefinisikan sebagai semua buangan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan hewan yang berbentuk padat, lumpur (sludge), cair maupun gas yang dibuang karena tidak dibutuhkan atau tidak diinginkan lagi. Walaupun dianggap sudah tidak berguna dan tidak dikehendaki, namun bahan tersebut kadang–kadang masih dapat dimanfaatkan kembali dan dijadikan bahan baku .     

1.2 KLASIFIKASI LIMBAH
            Pengelompokan jenis limbah penting bagi proses penanganan atau pengolahannya. Limbah dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis berdasarkan sumbernya, fasanya, dan sifatnya.
Limbah berdasar sumbernya, antara lain :
-        Limbah kegiatan kota (masyarakat)
-        Limbah industri
-        Limbah pertambangan
-        Limbah pertanian
-        Dll
Limbah berdasarkan fasanya atau bentuknya, antara lain :
-        Limbah padat
-        Limbah cair
-        Limbah gas
-        Limbah lumpur (sludge)
Limbah berdasarkan sifat bahanya, antara lain :
-        Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)
-        Limbah domestik atau limbah yang dihasilkan dari aktivitas primer manusia

1.3 PROSES TERBENTUKNYA LIMBAH SECARA UMUM
            Terdapat keterkaitan antara bahan baku, energi, produk yang dihasilkan dan limbah dari sebuah proses industri, maupun aktivitas manusia sehari-hari. Bahan terbuang (limbah) dapat berasal dari proses produksi atau dari pemakaian barang-barang yang dikonsumsi, yang dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 1). Dengan mengenal keterkaitan tersebut, maka akan lebih mudah mengenal bagaimana limbah terbentuk dan bagaimana usaha penanggulangannya.
            Banyak cara untuk mengidentifikasi limbah dengan tujuan utama untuk mengevaluasi resiko yang mungkin ditimbulkan dan untuk mengevaluasi cara penanganannya. Setidaknya ada 5 (lima) kelompok bagaimana limbah terbentuk :
Gambar 1. Proses Pembentukan Limbah

1.       Limbah yang berasal dari bahan baku yang tidak mengalami perubahan komposisi baik secara kimia maupun biologis. Mekanisme transformasi yang terjadi hanya bersifat fisis semata seperti pemotongan, penggergajian, dan sebagainya. Limbah kategori ini sangat cocok untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku. Sampah kota banyak termasuk dalam kategori ini.
2.       Limbah yang terbentuk akibat hasil samping dari sebuah proses kimia, fisika, dan biologis, atau karena kesalahan ataupun ketidak-optimuman proses yang berlangsung. Limbah yang dihasilkan mempunyai sifat yang berbeda dari bahan baku semula. Limbah ini ada yang dapat menjadi bahan baku bagi industri lain atau sama sekali tidak dapat dimanfaatkan. Usaha modifikasi proses akan mengurangi terbentuknya limbah jenis ini.
3.       Limbah yang terbentuk akibat penggunaan bahan baku sekunder, misalnya pelarut atau pelumas. Bahan baku sekunder ini tidak ikut dalam reaksi proses pembentukkan produk. Limbah ini kadangkala sangat berarti dari sudut kuantitas dan merupakan sumber utama dari industrial waste water. Teknik daur ulang ataupun penghematan penggunaan bahan baku sekunder banyak diterapkan dalam menanggulanginya.
4.       Limbah yang berasal dari hasil samping proses pengolahan limbah. Pada dasarnya semua pengolah limbah tidak dapat mentransfer limbah menjadi 100% non limbah. Ada produk samping yang harus ditangani lebih lanjut, baik berupa partikulat, gas, dan abu (dari insinerator), lumpur (misalnya dari unit pengolah limbah cair) atau bahkan limbah cair (misalnya dari lindi sebuah lahan urug).
5.       Limbah yang berasal dari bahan samping pemasaran produk industri, misalnya kertas, plastik, kayu, logam, drum, kontainer, tabung kosong, dan sebagainya. Limbah jenis ini dapat dimanfaatkan kembali sesuai fungsinya semula atau diolah terlebih dahulu agar menjadi produk baru. Sampah kota banyak terdapat dalam kategori ini.

1.4 PEMBANGUNAN INDUSTRI BERWAWASAN LINGKUNGAN
            Kegiatan pembangunan industri adalah salah satu kegiatan sektor ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kontribusi sektor industri terhadap pendapatan nasional menggambarkan sejauh mana tingkat industrialisasi telah dicapai oleh satu Negara. Bagi Negara-negara yang sedang berkembang peranan sektor pertanian masih lebih unggul dan mendominasi seluruh kegiatan sektor ekonomi lainnya. Peranan sektor industri belum mampu mengungguli sektor pertanian yang hamper memberikan sumbangan lebih dari separuh terhadap nasional bruto. Karena itu pembangunan sektor industri sering mendapat prioritas utama dalam rencana pembangunan nasional bagi kebanyakan negara berkembang. Sektor industri dianggap sebagai perintis pembangunan ekonomi karena sektor ini umumnya jauh bertumbuh lebih cepat dibandingkan dengan sektor pertanian.
            Dengan demikian kehidupan industri diharapkan berlangsung dan berlanjut terus menerus serta ditingkatkan perkembangan dan pertumbuhannya dimana satu di antara syarat hidup berlanjut adalah cukup tersedia faktor-faktor pendukung antara lain bahan tersedia dalam kurun waktu yang panjang, tenaga kerja tersedia, teknologi ada di pasar menyerap. Bila suatu industri hidup beroperasi dalam jangka waktu yang relative lama maka industri tersebut memenuhi syarat sebagai pembangunan industri yang berkelanjutan. Syarat menjadi pembangunan yang berkelanjutan  adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan kebutuhan generasi yang akan datang.
            Untuk dapat hidup dalam pembangunan berkelanjutan apabila pembangunan industri berada dalam kondisi industri yang berwawasan lingkungan yaitu industri yang berusaha memelihara kestabilan dan melestarikan ekosistemnya. Tindakan yang diperlukan untuk melestarikan ekosistem industri adalah mencegah pencemaran, mengurangi emisi-emisi, melestarikan keanekaragaman hayati, menggunakan sumber daya terbarukan secara berkelanjutan ddan mempertahankan keterpaduan ekosistem satu dengan ekosistem lainnya.
            Analisa terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan dewasa ini dilaksanakan melalui Environmental Impact Assessment atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dilaksanakan melalui perangkat peraturan UU no 23 tahun 1997 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan untuk memperkirakan akibat-akibat yang mungkin timbul pada lingkungan oleh kegiatan industri pada masa sekarang maupun masa yang akan datang. Industri-industri yang sudah berdiri perlu menyesuaikan diri dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku, mengidentifikasi kegiatan industri dengan lingkungan dan menanggulangi kerusakan lingkungan akibat kegiatan industri serta mengendalikan dampak negatif akibat kegiatan industri tersebut. Perlu dicatat bahwa peraturan dan undang-undang yang berkaitan dengan lingkungan hidup dilaksanakan hanya untuk memenuhi peraturan tersebut sedangkan pelaksanaannya di lapangan jauh dari kenyataan.
            Pertumbuhan industri terus berlangsung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Peranan yang demikian besar mendorong pemerintah untuk memacu pertumbuhan industri terus menerus karena di samping devisa yang meningkat setiap tahun, peranannya terhadap penyerapan tenaga kerja cukup baik dan kemampuannya mengolah sumber daya alam.
            Namun, peningkatan kegiatan yang demikian pesat telah mulai menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan baik dampak fisik, kimia maupun sosial ekonomi budaya. Akhir-akhir ini kegiatan industri mulai menjadi perhatian masyrakat secara serius karena berbagai dampak yang ditimbulkan antara lain menggunakan bahan baku yang tak terbarukan, menggunakan bahan baku yang dapat merusak ekosistem dan membuang limbah yang dapat mencemari lingkungan hidup. Dampak-dampak seperti inilah yang harus kita hindari agar alam tetap terjaga.

1.5 DAMPAK KEGIATAN INDUSTRI TERHADAP SUMBER DAYA ALAM DAN SUMBER DAYA MANUSIA
            Industri-industri yang menggunakan sumber daya alam terbarukan dapat diatasi dengan cara daur ulang. Tapi bila sumber daya alam terbatas atau tak terbarukan, maka penggunaannya harus terbatas dan lebih arif, harus dicegah agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Pertumbuhan industri yang menggunakan sumber daya alam setempat perlu didorong agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di lingkungan sekitar.
            Sumber daya manusia pada lingkungan pedesaan tidak memiliki keahlian untuk bekerja sebagai operator pabrik. Seringkali sumber daya manusia didatangkan dari kota karena sumber daya manusia yang berkualitas tidak tersedia di dekat lokasi. Kurangnya keterlibatan masyarakat sekitar pabrik sering menimbulkan kesenjangan sosial budaya. Adanya perbedaan tingkat kehidupan akan membuat kecemburuan sosial. Dampak inilah yang harus menjadi perhatian bagi para pengusaha agar terdapat pembangunan industri yang berwawasan lingkungan.

1.6 DAMPAK KEGIATAN INDUSTRI TERHADAP BIOGEOFISIK KIMIA
            Pencemaran terhadap lingkungan dapat berakibat luas dan tergantung limbah, jenis limbah, volume dan frekuensinya. Sifat-sifat limbah ada yang korosif, oksidator, beracun dan menimbulkan iritasi. Limbah dalam volume yang kecil dengan frekuensi yang terus-menerus akan mengakibatkan degradasi secara perlahan-lahan. Sebaliknya limbah yang walaupun volumenya besar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terjadi hanya sekali, hal ini tergantung pada jenis dan sifat limbah tersebut, serta senyawa-senyawa yang terkandung di dalamnya. Perlakuan terhadap limbah ditujukan untuk berbagai macam tujuan tergantung pada teknologi pengolahan. Ada limbah yang diproses kembali untuk memperoleh senyawa-senyawa yang terkandung di dalamnya, ada limbah yang diproses untuk tujuan menghilangkan senyawa-senyawa pencemaran sampai pada batas toleransi yang diizinkan.
            Berdasarkan sifat dan jenis limbah, pengaruh dan dampak yang dapat ditimbulkna dapat diuraikan sebagai berikut :

1.6.1 Dampak Limbah Cair
            Limbah air mengakibatkan badan penerima menjadi kotor dan senyawa-senyawa pencemar yang terkandung membahayakan terhadap lingkungan. Disamping itu perubahan air menjadi kotor perubahan air dilapisi bahan-bahan berminyak atau bahan padatan lain yang menyebabkan terjadinya penutupan permukaan air. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam limbah bila melebihi kadar yang ditentukan menyebabkan air tidak dapat dipergunakan untuk keperluan sebagaimana mestinya.
            Air tercemar bila salah satu atau lebih kondisi berikut ini terjadi, yaitu :
a.       Mengakibatkan naik turunnya keasaman air.
b.       Akan terjadi perubahan sifat fisika air misalnya terjadi perubahan warna, air menjadi keruh, berbau, dan berubahnya suhu air.
c.       Permukaan air tertutup oleh lapisan terapung, berupa minyak, lemak dan bahan padat lainnya.
d.       Peningkatan kandungan bahan-bahan organik maupun anorganik dalam air.
e.       Meningkatkan zat-zat tersuspensi dalam air.
            Terjadinya perubahan sifat-sifat dan kimia air disebabkan limbah dari industri yang mengandung bahan-bahan beracun dan berbahaya antara lain : merkuri, arsen, amoniak, dll. Bahan-bahan ini ada yang terlarut mengendap maupun tersuspensi. Dengan adanya senyawa-senyawa ini, melebihi ambang batas yang diterapkan menyebabkan berbagai akibat antara lain :
1.       Terganggunya kehidupan dalam air.
2.       Cepat timbul karat pada permukaan yang kontak langsung dengan air.
3.       Penurunan daya guna air dan lingkungannya.
4.       Peningkatan pertumbuhan beberapa jenis tumbuhan air.
5.       Terganggunya penggunaan air sebagai air minum, air cuci, air untuk pertanian, air perikanan, dan air untuk industri.
            Terjadinya pencemaran air erat kaitannya dengan pencemaran tanah dimana air itu mengalir. Air yang bersumber dari limbah perkebunan mengandung bahan-bahan residu akan mempengaruhi kahidupan pada permukaan tanah. Bahan-bahan yang ada di atas permukaan tanah bersama air hujan mengalir meresap ke dalam tanah tanpa adanya daya tanah untuk menahannya. Sebagian air berfungsi sebagai air larian memasuki badan perairan sungai atau rawa-rawa. Sebagian bahan ini masuk dalam perairan dan belum dilakukan penelitian sejauh mana perkebunan memberikan dampak terhadap sungai-sungai.

1.6.2 Dampak Penimbunan Tanah
            Limbah berupa padatan yang dibuang dengan cara tidak sistematis akan mempengaruhi lingkungan. Limbah padat yang dibuang ke perairan umum mengakibatkan terjadinya pendangkalan karena timbunan yang terus-menerus. Limbah padat mengandung senyawa terlarut yang terdiri dari bahan kimia larut dalam air sehingga air menjadi korosif, beracun, dan kotor. Limbah yang dibuang di atas tanah dengan cara penimbunan terus menerus mengakibatkan permukaan tanah menjadi rusak. Permukaan tanah mengandung bahan-bahan kimia yang mungkin beracun bagi tumbuhan. Bila terjadi hujan air mengalir dari timbunan tanah membuat tumbuhan sekitar menjadi terganggu kehidupannya. Pemandangan menjadi jelek, perubahan-perubahan pada lingkungan hidup segera terlihat, terjadi bau busuk karena timbulnya reaksi-reaksi kimia dan pembusukan timbunan tanah dan sampah. Timbul gas-gas yang berbau membuat udara menjadi tidak segar.
            Limbah padat yang sudah mengering mudah mengundang kebakaran sedangkan limbah padat basah akan menimbulkan kerusakan pada permukaan tanah. Akhir-akhir ini limbah padat sudah mulai menimbulkan permasalahn di kota besar. Limbah padat sebagian besar dihasilkan dari limbah domestik, yaitu limbah dari pusat pasar, swalayan. Limbah padat dari kegiatan industri juga sudah mulai menyita perhatian karena limbah ini ada yang mengandung bahan beracun dan berbahaya.

1.6.3 Dampak Terhadap Udara
            Limbah gas melalui media udara menyebar ke sekitar lingkungan menyebabkan udara menjadi tidak segar, kotor, dan berbau. Terjadi peningkatan kandungan bahan-bahan dalam udara seperti nitrogen oksida, sulfur dioksida, hidrokarbon, karbon monoksida, debu, dan partikel lainnya. penyebab limbah ini adalah adanya pabrik-pabrik pengecoran biji besi, proses-proses dalam pabrik, pembusukan bahan-bahan organik, pabrik baterai, debu asbes, bahan-bahan pewarna, pembakaran batu bata, sampah, dll. Limbah gas yang beracun dan berbahaya mengganggu kesehatan manusia yang berada di dalam lingkungan itu. Gangguan terhadap pekerja yang berada dalam ruangan dapat berupa radang pada saluran pernafasan, fungsi pancaindera berkurang, gangguan kejiwaan, peradangan pada usus, gangguan jantung, pneumonia, dll. Udara menjadi korosif mengakibatkan bahan logam yang kontak dengan udara mudahberkarat. Terganggunya kehidupan flora dan fauna. Gas dalam bentuk florida menimbulkan kerusakan pada daun. Gas dalam bentuk asap yang berasal dari pembakaran membuat kehilangan estetika pemandangan dan pernafasan terganggu.

1.6.4 Dampak Bahan-bahan Beracun dan Berbahaya
            Sesuai dengan sifat dan proses produksi terdapat pabrik-pabrik yang menggunakan bahan-bahan beracun dan berbahaya, baik dalam bentuk bahan baku, hasil produksi maupun hasil samping suatu proses. Sifat bahaya dan racun yang ditimbulkan dapat karena sentuhan, penyimpanan yang kurang baik maupun penggunaan yang melebihi lethal dosis. Bahan-bahan yang beracun dan berbahaya timbul dalam proses ekstraksi, proses kimia. Bahan-bahan ini harus dijaga dalam sistem pengangkutan, maupun sistem penyimpanan serta penggunannya. Bahan-bahan beracun dan berbahaya tergabung sebagai limbah karena mengalami kebocoran dan tumpah. Suatu bahan tergolong beracun dan berbahaya dapat diketahui antara lain : mudah meledak, mudah terbakar, korosif, menyengat, bersifat oksidator, menimbulkan iritasi. Bahan-bahan yang termasuk golongan ini adalah obat-obatan, insektisida, herbisida, solven atau pelarut seperti aseton, karbon tetraklorida, bahan-bahan pembersih seperti detergent, amoniak, lem, cat dengan elemen dasar timbal.
            Sifat-sifat beracun menunjukkan efek biologis, misalnya kemampuan bahan menciptakan luka bila tersentuh tubuh dan menimbulkan ancaman terhadap lingkungan hidup bila konsentrasinya melebihi nilai ambang batas. Sifat racun bahan kimia belum tentu menimbulkan bahaya, apabila penggunaan bahan dilakukan secara tepat dalam dosis yang tepat. Bahan beracun yang bersumber dari sisa packing atau kaleng, mengalami pengikisan karena air cucian dan masuk ke badan perairan. Kaleng wadah kimia mengandung zat sisa kimia. Sedangkan sifat berbahaya menunjukkan kemungkinan luka atau menciptakan kerugian yang mana ditentukan frekuensi dan lamanya bahan berbahaya menyentuh tubuh.
           
EVALUASI
Berikan contoh peristiwa pencemaran lingkungan oleh limbah yang pernah terjadi di dunia, jelaskan dampak yang terjadi serta analisis apakah penyebabnya ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar